fajri muhammad



ujiAn nAsiOnal, Bibit, dan PenYubuR KorUpsi

Temukan motivasi-motivasi didalam artikel ini….(beneran! Ada motivasinya lho!, jika ketemu, pahami, renungkan, dan do something)

Tanggal 20 april 2009 yang lalu, Ujian Nasional tahun 2008/2009 tingkat SMA/sederajat dilaksanakan. 5 hari penyelenggaraan UN menjadi perhatian khusus. Termasuk diantaranya adalah tokoh aku ini….(he…he…he!). Dalam kesempatan ini saya akan men-share pemikiran saya mengenai sesuatu mengenai Ujian Nasional kmaren. Berikut pemikiranq :

Pertama, masih ada saja kecurangan-kecurangan yang terjadi dalam ujian.
Di berita2 televisi banyak kita saksikan memang ada kecurangan-kecurangan yang terjadi selama UN. Modusnya banyak, ada siswa yang datang pagi-pagi jam 5 hanya untuk mengetahui kunci jawaban soal-soal UN yang akan diujikan (hal ini pernah ditayangkan di televisi komplit pake bukti video amatir di sebuah sekolah. Pengawasan ini dilakukan oleh komunitas air mata guru). Ada juga pihak guru yang ketahuan sedang mengerjakan soal UN untuk membuat kunci jawabannya. Kali ini tidak tanggung-tanggung, bukan Cuma seorang oknum guru, tetapi sekelompok guru! ( ck…ck…ck).
Memang. sekarang siswa sudah lebih “canggih”, banyak inisiatif2 baru yang keluar dari pemikiran mereka tentang strategi dalam menghadapi sesuatu yang “menakutkan”. Akan tetapi sangat disayangkan, inisiatif2 itu muncul hanya jika akan menghadapi sesuatu yang “menakutkan” saja dan muncul saat itu juga. Dan lagi-lagi inisiatif2 itu disalurkan untuk sesuatu yang buruk. Hahh…. Coba inisiatif itu muncul untuk menyelesaikan permasalahan mereka sendiri ato kalo bisa untuk bangsa skalian, pastinya akan muncul banyak ide-ide kreatif untuk bangsa ini.

Kedua, klo ingin lihat bibit koruptor di Indonesia, kalian bisa lihat dari penyelenggaraan UN. Pemerintah sebenarnya telah berusaha agar bagaimanapun juga penyelenggaraan UN bisa mengukur kemampuan siswa, dari doeloe waktu UN dibuat dua tipe A-B, trus sekarang, sistem pendistribusian soal yang dijaga ketat bahkan ada juga yang sampai dijaga polisi diruang yang disegel dan didistribusikan hanya pada hari H sebelum pelaksanaan UN. Ehh…, masih ada juga hal-hal tersebut diatas.
Nah, bibit koruptor itu sendiri timbul secara tidak langsung pada sbagian peserta UN, Guru, pihak penjaga soal, dll.

Untuk peserta UN. Mengapa korupsi saaangat sulit dihilangkan?, jawabannya karena sesuatu yang kecil “bagi mereka” sering diremehkan. Berbuat curang sekarang menjadi sesuatu yang biasa yang seakan sudah dianggap sesuatu yang wajar bagi sbagian guru. Mungkin sbgaian orang berpikir, “Daripada mengurusi tentang mencontek/kecurangan saat Ujian/ulangan, lebih baik ngurusi yang laennya! Ada yang lebih penting” (???!!!!!!). Ini nich, pemikiran-pemikiran yang hanya melihat sesuatu hanya pada ujungnya saja, tidak sampai ke akarnya!, kenapa korupsi susah ditangani dan makin banyak saja? Jawabannya karena memang budaya berbuat curang sudah semakin biasa dimata masyarakat dan itu dilakukan sejak masa kecil/remaja, bahkan ditingkat satuan pendidikan sekalipun. Maka lihatlah pada sebagian peserta UN, Inilah bibit koruptor itu…..

Untuk sebagian guru. Salah satu yang menyuburkan kebiasaan berbuat curang ini adalah tidak adanya pencegahan perbuatan itu, tidak adanya faktor penghambat pertumbuhan bibit koruptor. Ada sbagian guru yang justru merekomendasikan untuk berbuat curang, bahkan membantu berbuat curang. Dalihnya gampang, mereka tidak ingin masa depan anak didiknya pupus hanya dengan beberapa hari Ujian. Padahal jika mereka ingin anak didiknya sukses, justru bagaimanapun caranya harus dilakukan agar anak didik siap menghadapi ujian dengan memberikan bekal-bekal kepadanya. Untuk diketahui, dengan memberi bekal-bekal yang dibutuhkan, secara tidak langsung juga memberikan bekal untuk masa depannya (ingat, bukan cuma UN, masih ada Ujian masuk PT/ lainnya). Melatih berbuat jujur juga untuk masa depan anak didik. Mereka akan lebih siap menghadapi permsalahan2 kedepan secara mandiri tanpa ketergantungan dengan orang lain. Lihatlah tokoh-tokoh terkenal…, orang sukses selalu diawali dengan kerja keras untuk menggapai apa yang diinginkan. Maka lihatlah pada sbagian guru, inilah penyubur koruptor di Indonesia…..

Bagaimana mengatasinya? Gampang banget! Kita analogikan sebagai tumbuhan.
1. Pilihlah bibit yang unggul, jika tidak ada ya buat bagaimana agar bibit itu menjadi bibit unggul. Bibit2 koruptor dipisahkan dan jangan ditanam, syukur-syukur klo bisa bibit itu diobati dan dirawat agar menjadi bibit unggul.
2. Bibit unggul dihasilkan dari tanaman yang unggul/bagus pula. Dalam dunia “perkorupsian” peran orang tua sangat dituntut .
3. Bibit koruptor akan tumbuh subur dan bercabang-cabang lebat jika ada hal yang menyuburkannya. Nah, peran Guru sangat diperlukan sebagai penghambat pertumbuhan bibit2 koruptor.
4. Perawatan bibit unggul juga harus diperhatikan, jangan campur dengan bibit berpenyakit (koruptor) nanti tertular. Syukur-syukur jika malah bisa mengobati bibit berpenyakit itu.

Nah itu tuh, ilmu bertanam yang baik! Hasilnya bisa dinikmati setelahnya saat masa panen…
Tp ingat, selama pertumbuhan juga perlu perawatan, jangan sampai bibit penyakit menjangkiti kembali….


Leave a Comment

(required)

(required)



Formatting your comment
Back to Top | Textarea: Larger | Smaller