bElajaR menYetop MenContEK (season II)
Sebuah artikel super dahsyat abad ini, “Belajar Menyetop Menyontek”. Artikel yang udah ampe luar negeri, bahkan sampai difilmkan dengan judul yang sama:
(the best motivation movie award)
”Belajar Menyetop Menyontek”
Berdasarkan artikel karangan fajri muhammad El Shirazy
Coming soon……
Oh…gak nyangka ternyata impian Q lebay bgt!!!.
OK, Stop…!!!
Langsung ke pokok permasalahan. Menanggapi komentar2 searti yang sering masuk ke kehidupannku :
“ Bagaimana kalau kita yang ditanya pas Ulangan/test? Kalau gak dikasih, nanti dibilang pelit/sombong/ de el el…”
Komentar itu sering masuk dalam inbox di otakku. Syahdan, sekalian aja Q beri salah satu solusi menurut pemikiranQ agar clear ! (mudah-mudahan)
Dalam permasalahan ini,
Kalian bertanya : “bla…bla…bla…cit cit cit cit cuit (x2) burung bernyanyi!”
Aku menjawab :
I. Kasih Aja!
( ilustrasi diperankan oleh sebut saja “Jono”)
Kalau ada yang nanya “no. Absenmu brapa Jo?” ya jawab aja!. “Kamu punya pulpen brapa Jo?” kalo ditanya pertanyaan macam itu, ya jawab aja!, nah kalo gak dijawab itu baru yang namanya super duper pelit!!
II. OK, sekarang agak serius (agak??)!
Yang jadi permasalahan adalah jika tidak ngasih jawaban, maka kita dianggap “pelit”. “Pelit” ya, kata itu sebenernya yang kita gak mau menempel dibelakang nama kita.. Solusinya mudah,
- Hapus kata pelit.
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama mulai canangkan gerakan penghapusan kata pelit di Indonesia!!!, HAPUS KATA PELIT!!!….HAPUS KATA PELIT!!!.
- Solusi kedua adalah dengan pertukaran arti kata “pelit” dengan “dermawan”. Maka mulailah protes ke balai pustaka untuk segera mengganti arti kata “pelit” dengan arti kata “dermawan” dalam kamusnya!. Jadi nanti kalau kmu gak ngasih jawaban, tmen kmu bilang “Ah, si Jon tadi dermawan”. Kedengeran sejuk, seperti semilir angina yang menembus jiwa….ohh…senangnya dibilang dermawan!!.
III. Ok lagi!!!, yang ini beneran serius!!.
Sebenernya dibilang “pelit” karena gak beri jawaban tidaklah mengapa. Akan tetapi, gelar pelit yang menempel akan sedikit memberi beban psikologu. Apalagi yang beri gelar bukan “guru/Dosen/Presiden” tetapi “TEMAN!!”. Ditambah lagi jika bukan cuma gelar pelit, tetapi plus dibenci temen, wah…bakalan dibuat stress.
Ada 2 tipe penyelesaian yang menurutQ bisa jadi rujukan :
1. tipe OY_131454_474
yaitu tipe orang-orang yang biasa aja. Tipe anak yang biasa aja tetapi mo jadi luar biasa pinter!!!. Maka ketika ditanya ama temen (jawaban UL/TES/yang sederajat) yang perlu dilakuin (berdasarkan pengalaman pribadi n berhasil):
a. “Bentar dulu!”
Katakan itu!. Atau cukup dengan isyarat tangan yang maksudnya “bentar”, tapi jangan mencurigakan!. Beri isyarat tapi membentuk huruf/angka, itu mah sama aja!!. Atau beri isyarat terus supaya tmen bisa ngeliat, tangan digerakin terus-terusan, wah malah bisa ganti dicurigai pengawas!!!!.
Jadi cukup sewajarnya aja.
b. Pasang muka serius
Ya!, tinggal pasang muka serius ketika ngerjain soal-soal n ketika nglakuin jurus huruf a. diatas. Dijamin tambah meyakinkan. (serius beneran juga gak pa-pa,)
c. Jangan tolah-toleh
Ketika berhasil nglakuin kedua jurus diatas, teruskan!. N jangan tolah-toleh kesana-kemari (duh..pilihan kata yang salah). Coz kalau pas tatap muka ma temen yang mo nanya, bakalan ditanya lagi deh!, jadi cukup serius dengan kerjaan kita aja.
d. Berikan kompensasi
Kalau kamu berani, sekalian aja sebelum ulangan/test kamu bicara pada temenmu, “hei Jon, nanti maksimal cuma 3 nomor lho!”, atau bilang aja “Skalian aja, mo nomor brapa aja?”
lho kok malah ngasih jawaban?. INGET!!! Artikel pertama!, kurangi aja dulu jumlah contekan namun bertahap! Kita terapkan juga buat temen kita.
e. Bilang aja “Sulit”.
Ketika test selesai dan temenmu pada ngumpul tuk bahas tentang test tadi, ikutlah nimbrung dan bilang “Wah gak nyangka, tadi soal-soalnya sulit banget!!!” (meskipun memang beneran sulit). Hal itu bisa membuat temenmu maklum kalau tadi kamu gak beri jawaban sama dia.
Akan tetapi, yang tidak diinginkan adalah ketika kamu bilang “ Tadi soal-soalnya sulit banget!!!”, ehhh…temenmu malah nanggapi “Wah, gitu aja sulit!, gampang banget kok! Anak SD aja bisa (emangnya soalnya apaan???), tau gitu tadi nyonto Q aja!!”.
DUEEENGG!!!!…. . sabar….sabar…..
Sabar aja!, ada sedkit dosis kalimat anestesi tuk masalah itu:
“Yakinlah bahwa apa yang kita lakuin dengan seluruh kemampuan dan daya upaya kita, suatu saat nanti akan ada balasan yang setimpal!”
INGET!!!, ada yang Maha Adil untuk kita. Dan moga-moga, balasan itu datang ketika kita sangat membutuhkan, misalnya saat UAN, UMPTN, atau SPMB.
Oya, saat UMPTN, atau SPMB bakalan gak ada yang sempet nyonto!. Karena udah waktunya sedikit, soalnya banyak, ehhh…masih ditambah soalnya sulit-sulit!! Apalagi karena pesertanya banyak, disekeliling kita blum tentu kita kenal siapa disamping kita, siapa didepan kita, siapa dibelakang kita, diatas kita (???)!. makanya kemampuan kita pribadi diuji disitu.
2. tipe II
karena bingung bikin kode-nya ya sebut saja “tipe II”. Yaitu tipe yang dihuni oleh orang-orang yang memang udah dikenal pinter.
Kalau yang model ini, gampang banget!!!. Mengingat saat tes, orang-orang yang bener-bener pinter itu biasanya :
· serius
· manfaatin waktu
· gak nolah-noleh
· pandangan kelembar soal n jawaban
· kalau udah nge-check, numpuk deh!!!
· Atau mungkin juga malah minta nambah soal lagi (tapi kayaknya jarang)
Makanya, ketika ada yang tanya, trus ditolak, temen-temen masih maklum karena mukanya pasti sangat mendukung!, serius, sedikit keringetan, mata liat jam terus, pandangan kosong menerawang jauh. Nah coba kalau ada temen yang nanya, ehh…tiba-tiba muncul muka kayak gitu!, bisa-bisa malah gak jadi nanya!. He…he…he
Coba perhatikan!, dari semua anak-anak pandai yang kamu kenal, pasti mereka jarang/gak nyonto sama sekali. Karena memang anak pandai itu berawal dari berani untuk tidak nyonto dan percaya dengan kemampuan sendiri, ditambah lagi percaya banget sama yang Maha Adil!. Si dia pasti berpikiran kalau ngerjain sesuatu dengan seluruh kemampuan pasti akan ada bayarannya/balasannya, entah itu cepat atau lambat. Itu yang membuat mereka punya nilai plus!, tetapi jika kamu nemuin temen yang pinter tapi kok jarang ibadah, yakinlah bahwa dia termasuk orang-orang yang sombong.
Jadi (buat orang tipe I), sebenernya hal yang paling mudah dilakuin untuk menghindar dari budaya mencontek atau pertanyaan yang menuju kearah mencontek, adalah dengan menjadi pandai atau minimal berusaha bersikap pandai!. Maka temenmu akan segan dan menghormatimu serta memaklumimu!
Gimana? Kejawab blum? Puaskan?
…
Puaskan?
…
Puaskan?
…
Ayolah, puas-puaskan diri kalian……
Terima kasih….
weeehhhh…..
eh, ak mo tanya, ,
“bagaimana perasaanmu jika ada teman yg ‘tidak lebih pintar’ darimu selalu dapat nilai bagus karena hasil menyontek ??”
psti jawabannya gak jauh dari kata “gak terima lahh…. ak yg jelas2 lebih pinter ehh, dia malah dpt nilai bagus… NYEBELIN !!!!!”
nah loooo…. piye kuwi???
Posted 7 months, 3 weeks agomalah timbul rasa iri, dengki, marah, dongkol, kesel kan ????????
bagaimana SOLUSINYA ??????
oo iya yaa…..
Posted 7 months, 3 weeks agosetuju jriiiii !!!!
ahhh…
rasah nyonto bijine wes lumayan okkk
Posted 7 months, 3 weeks ago