mEmPeroloK peMIMpin BanGsa?

Dewasa ini, banyak dijumpai artikel-artikel, gambar, maupun tayangan Televisi yang berkutat dengan demonstrasi-demonstrasi maupun tulisan-tulisan bernada mencela Pemimpin Bangsa ini. Disadari atau tidak, kita sebagai konsumennya akan terus dipaksa mengiyakan pendapat mereka dengan alasan-alasan maupun bukti-bukti yang mereka yakini sebagai suatu kegagalan Pemimpin Bangsa.

Perlu kecermatan dalam menilai situasi seperti kasus diatas. Ada sebuah kenyataan yang tidak kita sadari adalah bahwa penduduk Indonesia sangat beragam, dan yang perlu digarisbawahi dari kemajemukan bangsa Indonesia adalah “Ideologi dan Cara Berpikir berbagai golongan”.

Sebagai contoh, ada sebuah aliran sesat X yang sudah yakin kita nyatakan sesat, mereka mengaku punya Rasul sendiri namun sayangnya mereka mendompleng agama lain. Pada kasus tersebut, kita akan kesulitan untuk menyadarkan mereka karena mereka juga berpikiran sama dengan kita. Kalau Muslim ya Rasulnya Muhammad SAW. Merekapun sama, mereka sangat meyakini ajaran mereka sebagaimana kita sangat meyakini ajaran kita masing-masing. Sekeras apapun usaha kita (karena kita sangat yakin kita yang benar) untuk menyadarkan mereka, sekeras usaha itu pula mereka mempertahankan keyakinan mereka, mereka akan menganggap usaha kita sebagai ujian bagi mereka.

Kemudian, dalam kehidupan berbangsa bernegara ini, situasi itu pulalah yang terjadi ketika sebagian golongan ingin mengorek-ngorek kebobrokan (bukan kebobrokan yang dipaksakan untuk mendukung suatu pendapat) Para Pemimpin Bangsa. Ingat, kita berbicara pada lingkup Para Pemimpin Negara yang bersih, jadi jangan diartikan kemudian kita tidak harus kritis ataupun hanya mendiamkan perilaku yang menyimpang. Yang penulis soroti adalah hal yang dilebih-lebihkan dalam mengkritik yang akhirnya berniat menjatuhkan. Golongan ini akan terus berusaha meyakinkan kita akan pendapat atau cara pikir mereka dengan berbagai hal yang benar tetapi menipu atau hal benar tatapi sebenarnya hanya untuk motif politis semata.

Penulis ingin sekali berbagi pendapat dalam menyikapi hal ini dengan pembaca . Jujur saja, penulis pernah menjabat sebagai ketua sebuah organisasi remaja. Selama berorganisasi, penulis merasakan berbagai “cobaan” karena seperti layaknya organisasi lain, penulis juga harus mengkoordinir anggota serta menjamin kelangsungan program-program agar tujuan awal dari organisasi tercapai. Dan selama setahun menjabat, penulis mengalami beban mental dan tanggung jawab yang begitu besar. Pernah penulis menangis, jengkel, tidur larut malam (memikirkan organisasi), bahkan marah yang penulis samarkan dengan sebuah senyuman pun pernah penulis alami. Sulit dibayangkan bagaimana kalau memimpin bangsa yang begitu besar ini.

Sejak saat itu, penulis spontan MARAH pada orang-orang yang dengan seenaknya mencela Para Pemimpin Bangsa. Hal ini mungkin bisa dipahami karena mereka ingin yang terbaik untuk kehidupan bersama. Padahal, banyak diantara mereka belum dan tidak pernah merasakan yang namanya memimpin “Organisasi” Indonesia.

Dalam kasus ini, satu hal yang penulis ingin tekankan, sebelum engkau menghina atau mengkritik (untuk menjatuhkan), :

“Jika Aku yang mengambil keputusan, Aku akan……..”

Tanyakan kalimat itu saat negara butuh suatu kebijakan. Dan berpikirlah bahwa jawaban itu akan engkau pertanggungjawabkan kepada seluruh rakyat Indonesia. Berpikirlah bahwa dampak dari jawaban itu juga akan berdampak pada seluruh rakyat Indonesia.

Setelah itu, rasakan betapa sulitnya mengambil sebuah saja keputusan untuk bangsa ini, walaupun bermusyawarah sekalipun.

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian “ (Q.S. Al Baqarah : 216)

Dalam hal ini, penulis berbagi saran :

  1. Teliti masalah yang ada secara menyeluruh dengan tidak mencampur baurkan dengan kepentingan pribadi/golongan maupun paham-paham sekelompok orang.
  2. Jangan Egois, berpikirlah masih ada yang bersyukur atas suatu kebijakan/putusan. Penulis tekankan bukan bersyukurnya orang yang diuntungkan dengan kebijakan/putusan itu sementara kebanyakan yang lain dirugikan).
  3. Berpikirlah kedepan dan berpikirlah atas dasar sebab akibat terhadap suatu kebijakan/putusan.
  4. Berpikirlah “Jika aku pada posisi itu.”

Ingatlah, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga kaum tersebut mengubahnya sendiri. Dan implementasinya bukan dengan suatu perpecahan, bukan pula dengan saling menyalahkan, juga bukan dengan saling menjatuhkan. Namun, dengan suatu kekompakan yang saling mengingatkan (bukan mencela dan bukan pula menjatuhkan bagaimanapun bentuknya), serta saling memberikan solusi.

Sebuah syair yang senada dengan permasalahan diatas:

“Janganlah engkau mencela kerinduan orang yang dimabuk asmara sebelum kau merasakannya sendiri”

Renungkanlah…………..

There are no comments on this post.

Leave a Reply